cerita.

Kispen 94: Mahaguru

Kemaskini: 29 Dis 2019

Sang Ilham mengurut janggut putih separas dada. Tiga pemuda tegak di hadapannya, tertunduk.


“Syabas. Kalian semua telah khatam segala ilmu. Bisa ditumbang segala seteru. Pastikan pencak seiring ilmu.”


“Baik, tok!”


“Di luar sana musuh di mana-mana. Jangan dicari. Hanya dibuka langkah bersilat gagah andai nyawa kamu diacah.”


“Baik, tok!”


Kali ini jawapan muridnya lebih nyaring. Dinding gua terasa seolah bergegar.


“Aku ada satu soalan. Kalian kini pendekar ulung. Sudah habis segala jurus aku perturunkan. Pasti ada seorang manusia yang kalian dendami, yang kalian mahu mati.”


Bungkam. Tiada yang menjawab.


“Andai kalian diberi peluang, siapa orang yang pertama kalian akan bunu…”


Bap! Bap! Bap!


Dua penumbuk hinggap tepat di dada, disambung tikaman jari ke leher.


Sang Ilham rebah. Kaku.


Terlalu pantas. Tak sempat dilihat, yang mana satu muridnya yang meluru.

© 2020 nizambakeri.com