cerita.

Kispen 50: Perisai

Kemaskini: 29 Dis 2019

“Dinda.” Sultan Semuatahu jengkang-jengkot tinggalkan kamar. Luka di pahanya masih belum sembuh. “Ada pun mata kanda ini ungkal, enggan lena.”


Permaisuri Gembak Ribuwarna singkap gebar sutera lantas suami yang banyak putih dikit hitam rambutnya didampingi segera.


“Mari kanda, biar dinda dodoi. Bahkan maklum benar dinda akan masyghul hati kanda tiada lain hanyasanya runtun hiba dan kecewa pada Bendahara Pipi Kembung yang berlaku derhaka.”


“Tidak. Tidak. Akan hal si anjing itu sudah lama kanda buang jauh-jauh dari ingatan.” Sultan Semuatahu buang pandang di jendela.


“Maka apakah gerangannya usul punca sugul durja yang tak kunjung padam ini, kanda?” 


“Andai kanda bertanya, sudikah dinda menjawab?”


“Barang pasti.”


Sultan Semuatahu rangkul pinggang isterinya.


“Dinda, antara Panglima yang tanpa gentar hayun hunus keris seraya ditabrak tikam segala musuh, kembur darah tanpa sempat mereka berkejip; dan hulubalang yang menembok kota dengan perisai dan dada, akan bundarlah mata mereka penuh tenang merenung ribuan mata panah dan keris yang mendatang – siapakah yang lebih wira?”


Permaisuri Gembak Ribuwarna terkedu. Sultan Semuatahu hela nafas, bicaranya belum usai.


“Dinda, bukankah hulubalang itu lebih wira? Walau tanpa lincah pencak, tiada dia menumpahkan darah melainkan nyawanya digantung demi negeri sendiri?”

© 2020 nizambakeri.com